Kamis, 15 Oktober 2015

laporan kunjungan ketamansiswaan



LAPORAN KETAMANSISWAAN
Kunjungan ke Museum Dewantara Kirti Griya



Di susun oleh
MU’IZZAH NOOR INDRIANI

PRODI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karuniaNya kami dapat  menyelesaikan laporan kegiatan ini.
Pada dasarnya laporan kegiatan ini merupakan informasi yang sangat penting dan dengan adanya laporan ini kami berharap dapat memberikan manfaat dan wawasan pengetahuan yang baik. Dalam penyelesaian laporan ini kami banyak menemui hambatan. Namun, berkat kemudahanNya  juga serta bantuan dari beberapa pihak laporan ini dapat kami selesaikan.
Untuk itu kami mengucapkan terima kasih atas segala bantuan, bimbingan, dan batuan dari semua pihak selama proses pembuatan laporan ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang turut serta membantu.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, karena itu kami mohon maaf dan mengharapkan kritik dan saran. Semoga makalah ini dapat berguna bagi kami dan juga bagi pembaca.

 

Yogyakarta, 24 September 2015


Mu’izzah Noor Indriani


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

            Museum sebagai tempat penyimpanan benda-benda dan tulisan-tulisan bersejarah mempunyai nilai kultural yang tinggi dan menyimpan fakta sejarah yang mempunyai arti penting bagi generasi selanjutnya. Dengan melihat museum maka akan terbayang semua peristiwa masa lalu yang terekam di dalamnya. Nilai-nilai kultural dan semangat perjuangan tersebut diharapkan dapat menyentuh jiwa pengunjungnya sehingga tergerak untuk melestarikannya.
            Ide Ki Hadar Dewantara mendirikan museum Dewantara Kirti Griya bukan bertujuan untuk mengkulturkan diri, tetapi dimaksudkan agar melalui museum generasi muda akan dapat mempelajari, memahami dan kemudian mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara
            Sesuai dengan kemajuan alam dan jaman, maka Museum Dewantara Kirti Griya juga berusaha meningkatkan diri dalam berbagai aspek antara lain: peningkatan dibidang fisik, tata pameran, koleksi benda bersejarah dan manuskrip-manuskrip yang tinggi nilainya. Walau peningkatan dilakukan seirama perkembangan alam dan jaman, tetapi Museum Dewantara Kirti Griya berusaha untuk tetap menjaga sifat dan ciri khas yang ada padanya sebagai suatu memorial.
            Untuk dapat dimanfaatkan sepanjang jaman koleksi-koleksi perlu perawatan dan pelestarian agar tidak mengalami kerusakan, kehilangan, ataupun adanya gangguan-gangguan penyebab rusaknya koleksi, pada museum ini terdapat berbagai jenis dan macam benda-benda bersejarah yang memerlukan cara perawatannya sendiri-sendiri.
            Museum Dewantara Kirti Griya terletak dikomplek Pendopo Tamansiswa dalam tata letak ruangan terdapat beberapa bagian ialah ruang museum, ruang perpustakaan museum dan arsip serta dokumen-dokumen yang mengiringi perjuangan Ki Hadjar Dewantara di masa lalu. Seperti telah disampaikan diatas bahwa meseum ini adalah museum khusus memorial tentang perjalanan dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara, diresmikan pertama kali dan di peruntukan untuk umum adalah pada Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 1970 oleh Nyi Hadjar Dewantara .

B. Visi dan Misi Museum

Visi : Melestarikan nilai-nilai perjuangan dan ajaran hidup Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa dalam memperjuangkan pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan.
Misi   : Mengembangkan dan menginformasikan koleksi benda sejarah peninggalan Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa untuk kepentingan studi, penelitian, dan rekreasi kepada masyarakat.

C. Tujuan  Museum

Tujuan didirikannya Museum Dewantara Kirti Griya antara lain :
1.      Mengajak generasi muda untuk mempelajari, memahami dan kemudian mampu mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
2.      Melestarikan, mengamankan dan membudayakan nilai-nilai luhur konsep-konsep dan ajaran Ki Hadjar Dewantara serta menjadikan bangsa yang berbudi pekerti luhur, berbudaya dan bermartabat
3.      Sebagai pusat layanan bagi masyarakat luas dalam keperluan  penelitian, pendidikan, kebudayaan, politik dan lain sebagainya








BAB II

PEMBAHASAN

A.    SEJARAH BERDIRNYA MUSEUM DEWANTARA KIRTI GRIYA

      Museum Dewantara Kirti (dalam bahasa jawa : Hanacaraka) merupakan museum peninggalan tokoh pendidikan Indonesia yaitu Ki Hadjar Dewantara yang berupa rumah dan pendapa. Selain itu, museum juga menampilkan barang-barang yang dipakai oleh Ki Hadjar Dewantara beserta keluarga.
      Bangunan rumah yang berdiri di atas tanah seluas 5.594 tersebut dibeli atas nama Ki Hadjar Dewantara, Ki Sudaminto, Ki Supratolo dari Mas Adjeng Ramsinah pada tanggal 14 Agustus 1935. Konon bangunan rumah tersebut didirikan pada tahun 1925 dengan gaya Jawa. Bangunan ini tercatat dalam buku register Keraton Ngayogyakarta tertanggal 26 Mei 1926, dengan nomor Angka 1383 / I.H (2). Pada tanggal 18 Desember 1951, pembelian tersebut dihibahkan kepada Yayasan Persatuan Tamansiswa.
      Pada bulan November 1957 bertepatan denga kawin emas Ki Hadjar, beliau menerima persembahan dari para pecinta Taman Siswa berupa rumah tinggal yang diberi nama Padepoan Ki Hadjar Dewantara. Padepokan itu berlokasi di Jl. Kusumanegara 131 Yogyakarta. Pada tahun 1958,  pada saat rapat pamong Tamansiswa Ki Hadjar Dewantara mengajukan permintaan agar rumah bekas tempat tinggalnya yang berada di kompleks perguruan Tamansiswa dijadikan museum. Permintaan tersebut ditanggapi dengan baik dan dilaksanakan setelah beliau wafat. Ki Hadjar Dewantara wafat pada tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata. Mulai tahun 1960, taman siswaberusaha untuk mewujudkan gagasan almarhum Ki Hadjar Dewantara.
      Pada suatu kesempatan Drs. Moh. Amil Sutaarga yang bertugas di Museum Nasional Jakarta, dan beliau adalah keluarga dekat Tamansiswa, bersedia datang ke Yogyakarta untuk memberikan pengetahuan dasar tentang permusiuman kepada Kepala Museum Sonobudoyo, kepala Museum TNI AD, dan calon petugas museum Tamansiswa yang dilaksanakan di Museum Perjuangan Yogyakarta.



      Pada tahun 1963 dibentuklah panitia pendiri Museum Tamansiswa yang terdiri dari :
1.      Keluarga Ki Hadjar Dewantar
2.      Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa
3.      Sejarawaan
4.      Keluarga Besar Tamansiswa
      Sampai pertengahan tahun 1969, rancanagan adanya museum belum juga terwujud, walaupun sudah dinyatakan sebagai Dewantara Memorial. Pada tanggal 11 Oktober 1969 Ki Nayono menerima surat dari Nyi Hadjar Dewantara (pribadi). Dengan adanya surat tersebut Ki Nayono tergugah untuk segera meminta perhatian kepada Majelis Luhur agar bekas tempat tinggal Ki Hadjar yang telah dinyatakan sebagai Dewantara Memorial segera dijadikan museum.
      Pada tanggal 2 Mei 1970, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional museum diresmikan dan dibuka untuk umum oleh Nyi Hadjar Dewantara sebagai pemipin umum Tamansiswa. Museum diberi nama Dewantara Kirti Griya, nama tersebut pemberian dari Bapak Hadiwidjoyo seorang ahli bahasa jawa. Adapun keterangan dari nama museum itu adalah sebagai berikut :
Ø  Dewantara diambil dari nama Ki Hadjar Dewantara
Ø  Kirti diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti pekerjaan
Ø  Griya diambil dari bahasa jawa yang berarti rumah
      Dengan demikian arti lengkapnya adalah rumah yang berisi hasil kerja Ki Hadjar Dewantara. Peresmian museum ditandai dengan adanya candrasengkala Miyat Ngaluhur Trusing Budi yang menunjukkan angka tahun 1902 Jawa atau tanggal 2 Mei 1970  Masehi. Makna yang terkandung dalam sengkalan tersebut sama dengan makna dan tujuan memorial yaitu dengan melalui museum diharapkan para pengunjung khususnya generasi muda akan dapat mempelajari, memahami, dan kemudian dapat mewujudkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
      Di museum ini pula awal lahirnya Badan Musyawarah Museum (Barahmus) DIY tahun 1971, yang dipimpin Mayor Supandi (alm) sebagai ketua 1 dan selanjutnya Barahmus DIY beralamat di Jl. Tamansiswa hingga 2 Mei 2007. Kemudian pindah ke  Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.



B.     KOLEKSI MUSEUM DEWANTARA KIRTI GRIYA

            Koleksi museum adalah semua jenis benda bukti material sejarah hasil budaya Ki Hadjar Dewantara mempunyai nilai bagi pembinaan dan  pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebudayaan.  Koleksi Museum Dewantara Kirti Griya terdiri dari:

1.      BANGUNAN

            Museum Dewantara Kirti Griya merupakan rumah bekas tempat tinggal Ki Hadjar Dewantara sekeluarga. Museum itu terdiri dari:
a.       Ruang Keluarga
Ruang keluarga berada tepat di bagian depan museum Dewantara Kirti Griya. Di dalam ruangan itu terdapat kursi goyang, almari, jam, almari buku, dan aksesoris.
b.      Ruang Tamu Utama
Ruang tamu utama berada tepat di kanan ruang keluarga. Di dalamnya tersimpan berbagai benda peninggalan Ki Hadjar Dewantara diantaranya meja kursi tamu, patung Ki Hadjar Dewantara, telepon, proyektil mortil 160, dan berbagai piagam milik Ki Hadjar Dewantara.
c.       Ruang Tidur Khusus Ki Hajar Dewantara
Ruang tidur khusus Ki Hadjar ini tepat berada di bagian depan museum. Di dalamnya terdapat benda-benda yang pernah dimiliki atau dipakai oleh Ki Hadjar Dewantara diantaranya pakaian waktu beliau ada di penjara Pekalongan, jam tangan Ki Hadjar, alat minum Ki Hadjar Dewantara, tongkat Ki Hadjar, dan peralatan yang pernah digunakan oleh Ki Hadjar (sikat peci, gunting, sisir, gillete, dan sabun mandi.)
d.      Ruang Tidur Ki Hadjar Dewantara beserta Istri
Ruang ini berada tepat di sebelah kanan ruang kerja Ki Hadjar Dewantara. Di dalamnya terdapat dipan souvenir, tempat rias Nyi Hadjar, foto Nyi Hadjar, dan perlengkapan Ki Hadjar Dewantara beserta istri.
e.       Ruang Kerja Ki Hadjar Dewantara
Ruang kerja Ki Hadjar Dewantara beada di sebelah kanan ruang tamu utama. Di dalam ruang kerja Ki Hadjar terdapat piano, kumpulanbuku Ki Hadjar, meja kerja, radio, dan lambang tamansiswa.
f.       Ruang Tidur Putri Ki Hadjar Dewantara
Di ruang tidur putri Ki Hadjar tersimpan almari pakaian, barang perabotan, tempat tidur, dan ada juga foto Ki Hadjar Dewantara beserta istri dan anaknya.

2.      PENDAPA AGUNG TAMANSISWA

      Perguruan Tamansiswa berdiri tanggal 3 Juli 1922. Saat itu, memiliki 25 anak didik, itupun hanya di bagian Taman Indra (TK). Karena setiap tahun peserta didik meningkat maka tempat kelahiran Tamansiswa yang bertempat di Jl, Gajah Mada Yogyakarta dipindahkan di Jl. Tamansiswa no. 31 dan 33.
      Ki Hadjar Dewantara beserta keluarga belum berkenaan pindah. Beliau menginginkan kepindahannya akan dilakukan bersamaan waktunya dengan terwujudnya sebuah pendapa dalam kompleks baru. Bagi Tamansiswa, pendapa adalah sebuah tempat yang diliputi suasana keluhuran budi. Untuk mewujudkan gagasan Ki Hadjar Dewantara dibentuklah komisi dengan struktur sebagai berikut :
Ø  ·         Ketua                    : Ki R. Roedjito
Ø  ·         Wakil Ketua          : B. P. H. Soejodiningrat
Ø  ·         Perencana              : G. P. H. Tedjokoesoemo
Ø  ·         Pembantu              : Katri Kartisoeseno
Ø  ·         Pelaksana              : R. Sindoetomo
      Dana pembangunan pendapa yang diperkirakan sebanyak empat ribu gulden (F. 4000). Sumber dana tersebut diantaranya berasal dari :
Ø  Para siswa setanah air dengan Gerakan Sebenggolan tiap siswa menyumbangkan satu benggol / dua setengah sen / Satu per empat puluh gulden setiap bulan.
Ø  Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia melakukan penarikan pertandingan sepakbola di berbagai tempat dan uang yang didapatkan seluruhnya disumbangkan kepada Tamansiswa.
Ø  Hasil penjualan pekerjaan tangan Wisma Rini yang pada waktu itu pengasuhnya adalah Ki Koemo Ratih Wonobojo.
      Pada hari Minggu, 10 Juli 1938 merupakan peletakan batu pertama pendapa oleh Raden Ajeng Soetartinah atau lebih dikenal sebagai Nyi Hadjar Dewantara dengan ditandai adanya candra sengkala Ambuka Paras Angesti Widji. Pada hari Selasa, 27 September 1938 diadakan upacara pemasangan molo dengan penancapan paku emas yang dipasang B. P. H. Soerjodiningrat. Pada tanggal 16 November 1938 pendapa di  buka resmi. Setelah upacara pembukaan dilanjutkan dengan Rapat Besar Umum (kongres) Tamansiswa. Rapat tersebut berlangsung hingga tanggal 22 November 1938 di Pendapa Agung Tamansiswa. Bersamaan dengan resminya pendapa maka Ki Hadjar Dewantara berkenan pindah di rumah Jl. Tamansiswa no. 31.
      Pendapa Agung Tamansiswa ini bergaya Jawa Yogyakarta dengan ukuran 17m × 17m. Sedangkan lantai pendapa lebih tinggi satu meter dari lantai tanah dan tinggi pendapa 12 meter, pada tahun 1952 pendapa diperluas dengan menambah sayap kanan kiri pendapa dan tempat penyimpanan gamelan. Di depan pendapa terdapat patung Ki Hadjar Dewantara, patung tersebut terbuat dari perunggu. Di depan patung terdapat tulisan TUT WURI HANDAYANI  dan di bagian belakang patung tertulis pembuat patung yaitu Ki Hendrojasmoro yang merupakan bekas Pamong Tamansiswa cabang Kebumen. Di resmikan pada hari Selasa, 16 Desember 1975 oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX.
            Pendapa Agung Tamansiswa sebagai Monumen Persatuan Tamansiswa menghadap ke barat. Terdiri dari  ruang kuncung karena berada didepan dengan bentuk atap kecil tinggi dibagian depan bertuliskan Pendopo Tamansiswa, ruang  pokok ada di tengah dan luas, ruang-ruang sayap berada di kiri dan kanan pendopo, kemudian menyambung ruang sayap belakang digunakan untuk menyimpan peralatan kesenian berupa seperangkat gamelan yang digunakan untuk mengiringi melatih tari para siswa oleh para pamong Tamansiswa.Lokasi  Museum dan Pendopo Tamansiswa berada dalam satu  lokasi/ komplek: di Jalan Tamansiswa nomor 31 Yogyakarta.

3.      KOLEKSI ASLI MUSEUM DEWANTARA KIRTI GRIYA

Ø  arsip surat-surat, dokumen, naskah,         
Ø  pakaian : pakaian kerja, pakaian penjara, pakaian saat jadi guru
Ø  perabotan : Meja kursi kerja. meja kursi tamu, almari pakaian, almari buku, kursi goyang,
Ø  piano yang biasa digunakan disaat senggang untuk berlatih bersama putra-putrinya
Ø   perlengkapan kerja: Telepon, buku, pulpen, kaca mata, tinta, tas kerja , mesin ketik
Ø   film dokumenter : saat mengajar, saat didepan pendopo agung, tarian anak dll.
Ø  panji Tamansiswa: Berbentuk perisai ukuran p:l=2:3, berisi lambang Tamansiswa, Suci Tata Ngesti Tunggal ( tahun 1922) warna dasar hijau
Ø   lambang Tamansiswa : bentuk Garuda cakra bertuliskan Persatuan Perguruan Tamansiswa Berpusat di Yogyakarta

4.      KOLEKSI LAINNYA
Ø  foto-foto kenangan pada peristiwa-peristiwa penting ki Hadjar Dewantara pada waktu perjuangan hingga wafatnya
Ø  lukisan karya Ki Sindukiswara dan lukisan bernuansa Bali
Ø  benda barang-barang pecah belah / peralatan makan dan minum keluarga

5.      PERPUSTAKAAN

            Keberadaan Perpustakaan merupakan sarana pendukung Museum, karena berisi buku-buku bacaan koleksi Ki Hadjar Dewantara dan berbagai buku kenangan yang berasal dari sahabat-sahabat. Ki Hadjar Dewantara dahulu adalah juga sebagai wartawan terkenal mempunyai kesenangan menulis, karya tulisan-tulisanya banyak dimuat di surat-surat kabar dan majalah. Salah satu tulisannya yang terkenal adalah karangan dalam bahasa Belanda dengan judul “Ik was an Nelerland “ bila di terjemahkan adalah “ Bila aku seorang Belanda” tulisan  ini mengungkapkan tentang hasutan, sindiran, makian ejekan, keprihatinan yang ditujukan untuk koloni atau antek-antek  Belanda, karena isinya yang sangat menusuk perasaan orang Belanda pada saat itu, akibatnya Ki Hadjar di panggil dan di tangkap.

            Selain itu di dalam perpustakaan terdapat buku-buku tentang Ketamansiswaan yang berisi konsep-konsep pemikiran  karya Ki Hadjar Dewantara dalam bidang pendidikan, sastra budaya, politik, berbangsa dan bernegara. Jumlah  koleksi museum sebanyak 1.205 buah, dan jumlah koleksi perpustakaan museum sebanyak 2.100 buku. Jumlah keseluruhan koleksi 3.305 buah.













BAB III

PENUTUP


A.                 KESIMPULAN

      Museum Dewantara Kirti Griya merupakan bekas tempat tinggal Ki Hadjar Dewantara beserta keluarga. Museum diberi nama Dewantara Kirti Griya, nama tersebut pemberian dari Bapak Hadiwidjoyo seorang ahli bahasa jawa. Adapun keterangan dari nama museum itu adalah sebagai berikut :
Ø  Dewantara diambil dari nama Ki Hsdjar Dewantara
Ø  Kirti diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti pekerjaan
Ø  Griya diambil dari bahasa jawa yang berarti rumah
      Dengan demikian arti lengkapnya adalah rumah yang berisi hasil kerja Ki Hadjar Dewantara. Peresmian museum ditandai dengan adanya candrasengkala Miyat Ngaluhur Trusing Budi yang menunjukkan angka tahun 1902 Jawa atau tanggal 2 Mei 1970  Masehi. Makna yang terkandung dalam sengkalan tersebut sama dengan makna dan tujuan memorial yaitu dengan melalui museum diharapkan para pengunjung khususnya generasi muda akan dapat mempelajari, memahami, dan kemudian dapat mewujudkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Museum tersebut berlokasi di jalan Tamansiswa no. 31 Yogyakarta.  Di dalam museum itu terdapat berbagai barang bersejarah peninggalan Ki Hadjar Dewantara. Selain itu di dalamnya terdapat beberapa ruangan diantaranya kamar khusus Ki Hadjar, ruang kerja, ruang keluarga, kamar tidur Ki Hadjar dan istri, dan lain sebagainya.










DOKUMENTASI MUSEUM KIRTI GRIYA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar