LAPORAN
KETAMANSISWAAN
“Kunjungan
ke Museum Dewantara Kirti Griya”

Di
susun oleh
MU’IZZAH
NOOR INDRIANI
PRODI
AGRIBISNIS
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan laporan kegiatan ini.
Pada dasarnya laporan kegiatan ini
merupakan informasi yang sangat penting dan dengan adanya laporan ini kami
berharap dapat memberikan manfaat dan wawasan pengetahuan yang baik. Dalam
penyelesaian laporan ini kami banyak menemui hambatan. Namun, berkat
kemudahanNya juga serta bantuan dari
beberapa pihak laporan ini dapat kami selesaikan.
Untuk itu kami mengucapkan terima
kasih atas segala bantuan, bimbingan, dan batuan dari semua pihak selama proses
pembuatan laporan ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan
yang turut serta membantu.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih
banyak kekurangan, karena itu kami mohon maaf dan mengharapkan kritik dan
saran. Semoga makalah ini dapat berguna bagi kami dan juga bagi pembaca.
Yogyakarta, 24 September 2015
Mu’izzah Noor Indriani
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Museum sebagai tempat penyimpanan benda-benda dan tulisan-tulisan bersejarah
mempunyai nilai kultural yang tinggi dan menyimpan fakta sejarah yang mempunyai
arti penting bagi generasi selanjutnya. Dengan melihat museum maka akan
terbayang semua peristiwa masa lalu yang terekam di dalamnya. Nilai-nilai
kultural dan semangat perjuangan tersebut diharapkan dapat menyentuh jiwa
pengunjungnya sehingga tergerak untuk melestarikannya.
Ide Ki Hadar Dewantara mendirikan museum Dewantara Kirti Griya bukan bertujuan
untuk mengkulturkan diri, tetapi dimaksudkan agar melalui museum generasi muda
akan dapat mempelajari, memahami dan kemudian mewujudkan nilai-nilai yang
terkandung dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara
Sesuai dengan kemajuan alam dan jaman, maka Museum Dewantara Kirti Griya juga
berusaha meningkatkan diri dalam berbagai aspek antara lain: peningkatan
dibidang fisik, tata pameran, koleksi benda bersejarah dan manuskrip-manuskrip
yang tinggi nilainya. Walau peningkatan dilakukan seirama perkembangan alam dan
jaman, tetapi Museum Dewantara Kirti Griya berusaha untuk tetap menjaga sifat
dan ciri khas yang ada padanya sebagai suatu memorial.
Untuk dapat dimanfaatkan sepanjang jaman koleksi-koleksi perlu perawatan dan
pelestarian agar tidak mengalami kerusakan, kehilangan, ataupun adanya
gangguan-gangguan penyebab rusaknya koleksi, pada museum ini terdapat berbagai
jenis dan macam benda-benda bersejarah yang memerlukan cara perawatannya
sendiri-sendiri.
Museum Dewantara Kirti Griya terletak dikomplek Pendopo Tamansiswa dalam tata
letak ruangan terdapat beberapa bagian ialah ruang museum, ruang perpustakaan
museum dan arsip serta dokumen-dokumen yang mengiringi perjuangan Ki Hadjar
Dewantara di masa lalu. Seperti telah disampaikan diatas bahwa meseum ini
adalah museum khusus memorial tentang perjalanan dan perjuangan Ki Hadjar
Dewantara, diresmikan pertama kali dan di peruntukan untuk umum adalah pada
Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 1970 oleh Nyi Hadjar Dewantara .
B. Visi dan Misi Museum
Visi : Melestarikan nilai-nilai perjuangan
dan ajaran hidup Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa dalam memperjuangkan
pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan.
Misi
: Mengembangkan dan menginformasikan koleksi benda sejarah
peninggalan Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa untuk kepentingan studi,
penelitian, dan rekreasi kepada masyarakat.
C. Tujuan Museum
Tujuan didirikannya Museum Dewantara Kirti Griya
antara lain :
1. Mengajak
generasi muda untuk mempelajari, memahami dan kemudian mampu mewujudkan
nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
2. Melestarikan,
mengamankan dan membudayakan nilai-nilai luhur konsep-konsep dan ajaran Ki
Hadjar Dewantara serta menjadikan bangsa yang berbudi pekerti luhur, berbudaya
dan bermartabat
3. Sebagai
pusat layanan bagi masyarakat luas dalam keperluan penelitian,
pendidikan, kebudayaan, politik dan lain sebagainya
BAB II
PEMBAHASAN
A. SEJARAH BERDIRNYA MUSEUM DEWANTARA KIRTI GRIYA
Museum Dewantara Kirti
(dalam bahasa jawa : Hanacaraka) merupakan museum peninggalan tokoh pendidikan
Indonesia yaitu Ki Hadjar Dewantara yang berupa rumah dan pendapa. Selain itu,
museum juga menampilkan barang-barang yang dipakai oleh Ki Hadjar Dewantara
beserta keluarga.
Bangunan rumah yang
berdiri di atas tanah seluas 5.594 tersebut dibeli atas nama Ki Hadjar
Dewantara, Ki Sudaminto, Ki Supratolo dari Mas Adjeng Ramsinah pada tanggal 14
Agustus 1935. Konon bangunan rumah tersebut didirikan pada tahun 1925 dengan
gaya Jawa. Bangunan ini tercatat dalam buku register Keraton Ngayogyakarta
tertanggal 26 Mei 1926, dengan nomor Angka 1383 / I.H (2). Pada tanggal 18
Desember 1951, pembelian tersebut dihibahkan kepada Yayasan Persatuan
Tamansiswa.
Pada bulan November
1957 bertepatan denga kawin emas Ki Hadjar, beliau menerima persembahan dari
para pecinta Taman Siswa berupa rumah tinggal yang diberi nama Padepoan Ki
Hadjar Dewantara. Padepokan itu berlokasi di Jl. Kusumanegara 131 Yogyakarta.
Pada tahun 1958, pada saat rapat pamong Tamansiswa Ki Hadjar Dewantara
mengajukan permintaan agar rumah bekas tempat tinggalnya yang berada di
kompleks perguruan Tamansiswa dijadikan museum. Permintaan tersebut ditanggapi
dengan baik dan dilaksanakan setelah beliau wafat. Ki Hadjar Dewantara wafat
pada tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata. Mulai tahun
1960, taman siswaberusaha untuk mewujudkan gagasan almarhum Ki Hadjar
Dewantara.
Pada suatu kesempatan
Drs. Moh. Amil Sutaarga yang bertugas di Museum Nasional Jakarta, dan beliau
adalah keluarga dekat Tamansiswa, bersedia datang ke Yogyakarta untuk
memberikan pengetahuan dasar tentang permusiuman kepada Kepala Museum
Sonobudoyo, kepala Museum TNI AD, dan calon petugas museum Tamansiswa yang
dilaksanakan di Museum Perjuangan Yogyakarta.
Pada tahun 1963
dibentuklah panitia pendiri Museum Tamansiswa yang terdiri dari :
1.
Keluarga Ki
Hadjar Dewantar
2.
Majelis
Luhur Persatuan Tamansiswa
3.
Sejarawaan
4.
Keluarga
Besar Tamansiswa
Sampai pertengahan
tahun 1969, rancanagan adanya museum belum juga terwujud, walaupun sudah
dinyatakan sebagai Dewantara Memorial. Pada tanggal 11 Oktober 1969 Ki Nayono
menerima surat dari Nyi Hadjar Dewantara (pribadi). Dengan adanya surat
tersebut Ki Nayono tergugah untuk segera meminta perhatian kepada Majelis Luhur
agar bekas tempat tinggal Ki Hadjar yang telah dinyatakan sebagai Dewantara
Memorial segera dijadikan museum.
Pada tanggal 2 Mei
1970, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional museum diresmikan dan dibuka
untuk umum oleh Nyi Hadjar Dewantara sebagai pemipin umum Tamansiswa. Museum
diberi nama Dewantara Kirti Griya, nama tersebut pemberian dari Bapak
Hadiwidjoyo seorang ahli bahasa jawa. Adapun keterangan dari nama museum itu adalah
sebagai berikut :
Ø Dewantara
diambil dari nama Ki Hadjar Dewantara
Ø Kirti
diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti pekerjaan
Ø Griya
diambil dari bahasa jawa yang berarti rumah
Dengan demikian arti
lengkapnya adalah rumah yang berisi hasil kerja Ki Hadjar Dewantara. Peresmian
museum ditandai dengan adanya candrasengkala Miyat Ngaluhur Trusing Budi yang
menunjukkan angka tahun 1902 Jawa atau tanggal 2 Mei 1970 Masehi. Makna
yang terkandung dalam sengkalan tersebut sama dengan makna dan tujuan memorial
yaitu dengan melalui museum diharapkan para pengunjung khususnya generasi muda
akan dapat mempelajari, memahami, dan kemudian dapat mewujudkan nilai-nilai
yang terkandung didalamnya ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di museum ini pula awal
lahirnya Badan Musyawarah Museum (Barahmus) DIY tahun 1971, yang dipimpin Mayor
Supandi (alm) sebagai ketua 1 dan selanjutnya Barahmus DIY beralamat di Jl.
Tamansiswa hingga 2 Mei 2007. Kemudian pindah ke Museum Benteng Vredeburg
Yogyakarta.
B. KOLEKSI MUSEUM DEWANTARA KIRTI GRIYA
Koleksi museum adalah semua jenis benda bukti material sejarah hasil budaya Ki
Hadjar Dewantara mempunyai nilai bagi pembinaan dan pengembangan sejarah,
ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebudayaan. Koleksi Museum Dewantara
Kirti Griya terdiri dari:
1. BANGUNAN
Museum
Dewantara Kirti Griya merupakan rumah bekas tempat tinggal Ki Hadjar Dewantara
sekeluarga. Museum itu terdiri dari:
a.
Ruang
Keluarga
Ruang keluarga berada tepat di bagian depan museum Dewantara
Kirti Griya. Di dalam ruangan itu terdapat kursi goyang, almari, jam, almari
buku, dan aksesoris.
b. Ruang Tamu
Utama
Ruang tamu utama berada tepat di kanan ruang keluarga.
Di dalamnya tersimpan berbagai benda peninggalan Ki Hadjar Dewantara diantaranya
meja kursi tamu, patung Ki Hadjar Dewantara, telepon, proyektil mortil 160, dan
berbagai piagam milik Ki Hadjar Dewantara.
c.
Ruang Tidur
Khusus Ki Hajar Dewantara
Ruang tidur khusus Ki Hadjar ini tepat berada di
bagian depan museum. Di dalamnya terdapat benda-benda yang pernah dimiliki atau
dipakai oleh Ki Hadjar Dewantara diantaranya pakaian waktu beliau ada di
penjara Pekalongan, jam tangan Ki Hadjar, alat minum Ki Hadjar Dewantara,
tongkat Ki Hadjar, dan peralatan yang pernah digunakan oleh Ki Hadjar (sikat
peci, gunting, sisir, gillete, dan sabun mandi.)
d. Ruang Tidur
Ki Hadjar Dewantara beserta Istri
Ruang ini berada tepat di sebelah kanan ruang kerja Ki
Hadjar Dewantara. Di dalamnya terdapat dipan souvenir, tempat rias Nyi Hadjar,
foto Nyi Hadjar, dan perlengkapan Ki Hadjar Dewantara beserta istri.
e.
Ruang Kerja
Ki Hadjar Dewantara
Ruang kerja Ki Hadjar Dewantara beada di sebelah kanan
ruang tamu utama. Di dalam ruang kerja Ki Hadjar terdapat piano, kumpulanbuku
Ki Hadjar, meja kerja, radio, dan lambang tamansiswa.
f.
Ruang Tidur
Putri Ki Hadjar Dewantara
Di ruang tidur putri Ki Hadjar tersimpan almari
pakaian, barang perabotan, tempat tidur, dan ada juga foto Ki Hadjar Dewantara
beserta istri dan anaknya.
2. PENDAPA AGUNG TAMANSISWA
Perguruan Tamansiswa
berdiri tanggal 3 Juli 1922. Saat itu, memiliki 25 anak didik, itupun hanya di
bagian Taman Indra (TK). Karena setiap tahun peserta didik meningkat maka
tempat kelahiran Tamansiswa yang bertempat di Jl, Gajah Mada Yogyakarta
dipindahkan di Jl. Tamansiswa no. 31 dan 33.
Ki Hadjar Dewantara
beserta keluarga belum berkenaan pindah. Beliau menginginkan kepindahannya akan
dilakukan bersamaan waktunya dengan terwujudnya sebuah pendapa dalam kompleks baru.
Bagi Tamansiswa, pendapa adalah sebuah tempat yang diliputi suasana keluhuran
budi. Untuk mewujudkan gagasan Ki Hadjar Dewantara dibentuklah komisi dengan
struktur sebagai berikut :
Ø ·
Ketua
: Ki R. Roedjito
Ø ·
Wakil Ketua
: B. P. H. Soejodiningrat
Ø ·
Perencana
: G.
P. H. Tedjokoesoemo
Ø ·
Pembantu
:
Katri Kartisoeseno
Ø ·
Pelaksana
: R.
Sindoetomo
Dana pembangunan
pendapa yang diperkirakan sebanyak empat ribu gulden (F. 4000). Sumber dana
tersebut diantaranya berasal dari :
Ø Para siswa
setanah air dengan Gerakan Sebenggolan tiap siswa menyumbangkan satu benggol /
dua setengah sen / Satu per empat puluh gulden setiap bulan.
Ø Persatuan
Sepakbola Seluruh Indonesia melakukan penarikan pertandingan sepakbola di
berbagai tempat dan uang yang didapatkan seluruhnya disumbangkan kepada
Tamansiswa.
Ø Hasil
penjualan pekerjaan tangan Wisma Rini yang pada waktu itu pengasuhnya adalah Ki
Koemo Ratih Wonobojo.
Pada hari Minggu, 10
Juli 1938 merupakan peletakan batu pertama pendapa oleh Raden Ajeng Soetartinah
atau lebih dikenal sebagai Nyi Hadjar Dewantara dengan ditandai adanya candra
sengkala Ambuka Paras Angesti Widji. Pada hari Selasa, 27 September 1938
diadakan upacara pemasangan molo dengan penancapan paku emas yang dipasang B.
P. H. Soerjodiningrat. Pada tanggal 16 November 1938 pendapa di buka
resmi. Setelah upacara pembukaan dilanjutkan dengan Rapat Besar Umum (kongres)
Tamansiswa. Rapat tersebut berlangsung hingga tanggal 22 November 1938 di
Pendapa Agung Tamansiswa. Bersamaan dengan resminya pendapa maka Ki Hadjar
Dewantara berkenan pindah di rumah Jl. Tamansiswa no. 31.
Pendapa Agung
Tamansiswa ini bergaya Jawa Yogyakarta dengan ukuran 17m × 17m. Sedangkan
lantai pendapa lebih tinggi satu meter dari lantai tanah dan tinggi pendapa 12
meter, pada tahun 1952 pendapa diperluas dengan menambah sayap kanan kiri
pendapa dan tempat penyimpanan gamelan. Di depan pendapa terdapat patung Ki
Hadjar Dewantara, patung tersebut terbuat dari perunggu. Di depan patung
terdapat tulisan TUT WURI HANDAYANI dan di bagian belakang patung
tertulis pembuat patung yaitu Ki Hendrojasmoro yang merupakan bekas Pamong
Tamansiswa cabang Kebumen. Di resmikan pada hari Selasa, 16 Desember 1975 oleh
Sri Sultan Hamengkubuwana IX.
Pendapa Agung Tamansiswa sebagai Monumen Persatuan Tamansiswa menghadap ke
barat. Terdiri dari ruang kuncung karena berada didepan dengan bentuk
atap kecil tinggi dibagian depan bertuliskan Pendopo Tamansiswa, ruang
pokok ada di tengah dan luas, ruang-ruang sayap berada di kiri dan kanan
pendopo, kemudian menyambung ruang sayap belakang digunakan untuk menyimpan
peralatan kesenian berupa seperangkat gamelan yang digunakan untuk mengiringi
melatih tari para siswa oleh para pamong Tamansiswa.Lokasi Museum dan
Pendopo Tamansiswa berada dalam satu lokasi/ komplek: di Jalan Tamansiswa
nomor 31 Yogyakarta.
3. KOLEKSI ASLI MUSEUM DEWANTARA KIRTI GRIYA
Ø arsip
surat-surat, dokumen, naskah,
Ø pakaian :
pakaian kerja, pakaian penjara, pakaian saat jadi guru
Ø perabotan :
Meja kursi kerja. meja kursi tamu, almari pakaian, almari buku, kursi goyang,
Ø piano yang
biasa digunakan disaat senggang untuk berlatih bersama putra-putrinya
Ø perlengkapan kerja: Telepon, buku,
pulpen, kaca mata, tinta, tas kerja , mesin ketik
Ø film dokumenter : saat mengajar,
saat didepan pendopo agung, tarian anak dll.
Ø panji
Tamansiswa: Berbentuk perisai ukuran p:l=2:3, berisi lambang Tamansiswa, Suci
Tata Ngesti Tunggal ( tahun 1922) warna dasar hijau
Ø lambang Tamansiswa : bentuk Garuda
cakra bertuliskan Persatuan Perguruan Tamansiswa Berpusat di Yogyakarta
4. KOLEKSI
LAINNYA
Ø foto-foto
kenangan pada peristiwa-peristiwa penting ki Hadjar Dewantara pada waktu
perjuangan hingga wafatnya
Ø lukisan
karya Ki Sindukiswara dan lukisan bernuansa Bali
Ø benda
barang-barang pecah belah / peralatan makan dan minum keluarga
5. PERPUSTAKAAN
Keberadaan Perpustakaan merupakan sarana pendukung Museum, karena berisi
buku-buku bacaan koleksi Ki Hadjar Dewantara dan berbagai buku kenangan yang
berasal dari sahabat-sahabat. Ki Hadjar Dewantara dahulu adalah juga sebagai
wartawan terkenal mempunyai kesenangan menulis, karya tulisan-tulisanya banyak
dimuat di surat-surat kabar dan majalah. Salah satu tulisannya yang terkenal
adalah karangan dalam bahasa Belanda dengan judul “Ik was an Nelerland “ bila
di terjemahkan adalah “ Bila aku seorang Belanda” tulisan ini
mengungkapkan tentang hasutan, sindiran, makian ejekan, keprihatinan yang
ditujukan untuk koloni atau antek-antek Belanda, karena isinya yang
sangat menusuk perasaan orang Belanda pada saat itu, akibatnya Ki Hadjar di
panggil dan di tangkap.
Selain itu di dalam perpustakaan terdapat buku-buku tentang Ketamansiswaan yang
berisi konsep-konsep pemikiran karya Ki Hadjar Dewantara dalam bidang
pendidikan, sastra budaya, politik, berbangsa dan bernegara. Jumlah
koleksi museum sebanyak 1.205 buah, dan jumlah koleksi perpustakaan museum
sebanyak 2.100 buku. Jumlah keseluruhan koleksi 3.305 buah.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Museum Dewantara Kirti
Griya merupakan bekas tempat tinggal Ki Hadjar Dewantara beserta keluarga.
Museum diberi nama Dewantara Kirti Griya, nama tersebut pemberian dari Bapak
Hadiwidjoyo seorang ahli bahasa jawa. Adapun keterangan dari nama museum itu
adalah sebagai berikut :
Ø Dewantara
diambil dari nama Ki Hsdjar Dewantara
Ø Kirti
diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti pekerjaan
Ø Griya
diambil dari bahasa jawa yang berarti rumah
Dengan demikian arti
lengkapnya adalah rumah yang berisi hasil kerja Ki Hadjar Dewantara. Peresmian
museum ditandai dengan adanya candrasengkala Miyat Ngaluhur Trusing Budi yang
menunjukkan angka tahun 1902 Jawa atau tanggal 2 Mei 1970 Masehi. Makna
yang terkandung dalam sengkalan tersebut sama dengan makna dan tujuan memorial
yaitu dengan melalui museum diharapkan para pengunjung khususnya generasi muda
akan dapat mempelajari, memahami, dan kemudian dapat mewujudkan nilai-nilai
yang terkandung didalamnya ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Museum tersebut berlokasi di jalan Tamansiswa no. 31
Yogyakarta. Di dalam museum itu terdapat berbagai barang bersejarah
peninggalan Ki Hadjar Dewantara. Selain itu di dalamnya terdapat beberapa
ruangan diantaranya kamar khusus Ki Hadjar, ruang kerja, ruang keluarga, kamar
tidur Ki Hadjar dan istri, dan lain sebagainya.
DOKUMENTASI MUSEUM KIRTI GRIYA






Tidak ada komentar:
Posting Komentar